MEA 2016: Sektor Pertanian di Riau Segera Perkuat Poros Penelitian - Penyuluhan - Petani

Image
Monday, 16 November 2015 | 01:20:22 WIB


Pekanbaru - Riau kini mulai berbenah di sektor pertanian di seluruh kabupaten, berkenaan dengan akan segera direalisasikannya kesepakatan negara-negara ASEAN di tahun 2016 nanti.  Masyarakat Ekonomi ASEAN 2016 (MEA 2016) merupakan langkah awal untuk memunculkan pasar global di seluruh negara ASEAN.  Segala aspek yang berkaitan dengan dinamika ekonomi, perdagangan, ekspor, impor, serta industri yang mendukung perekonomian perdagangan, akan berbenah dan dipersiapkan di masing-masing propinsi di Indonesia.  Propinsi Riau sebagai salah satu propinsi 'gerbang'  yang berbatasan langsung dengan Malaysia anggota ASEAN juga, menjadi perhatian kita di Riau untuk dapat mempersiapkan segala aspek dalam menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN 2016.

Konsep nasional di sektor pertanian yang dapat dipelajari dan dipertimbangkan di Riau, agar dapat menjalankan model pembangunan model "Ekonomi Biru".  Bukan hanya Riau, tetapi juga Indonesia. Referensi berikut dapat menjadi acuan dalam menyukseskan sektor pertanian. Agar pertanian Indonesia mampu berjaya di MEA disarankan agar model pembangunan teknologi hijau untuk ditinggalkan dan diganti model  “Ekonomi Biru”. Model ini sangat sesuai dengan kondisi dan situasi di Indonesia saat ini. Adapun ciri-ciri model ekonomi biru adalah:
(a) Memanfaatkan semua tipe lahan;
(b) Petani adalah pelaku utama pertanian;
(c) Usahatani polikultur terintegrasi;
(d) Menghasilkan produk bernilai tambah; dan
(d) Tidak menyisakan limbah.

Dalam memperkuat poros peneliti - penyuluh - petani, referensi lanjut ini dapat dijadikan kerangka dasar dalam praktek di lapangan di era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2016 nanti. Pada hakekatnya penyuluhan adalah proses belajar multi pihak, paling tidak ada tiga pihak (triangular) yang saling berkomunikasi untuk mencari solusi dan peluang terhadap masalah yang dihadapi petani.   




Dukungan kebijakan untuk mengembangkan ekonomi biru atau arah baru pembangunan pertanian adalah memperkuat poros Penelitian-Penyuluhan-Petani, melalui penguatan komponen-komponen berikut:
(1) Reorientasi Penelitian Pertanian, untuk menghasilkan teknologi yang diperlukan dalam menyongsong MAE dan perdagangan global;
(2) Kafetaria Penyuluhan Pertanian, informasi  dikemas secara baik dan disajikan secara kafetaria; dan
(3) Reposisi Petani, untuk mengubah posisi petani dari petani produsen menjadi petani pemasok.

Walaupun kita semua masih terus mempelajari bagaimana hal ikhwal Masyarakat Ekonomi ASEAN 2016 ini, dapat kita ambil manfaat positif, di antaranya, para petani kita di Riau, dapat memacu dan segera membenahi kinerja serta fokus untuk berusaha memperbesar hasil-hasil pertaniannya sesegera mungkin.


(nusapos.com/Andra)

Sumber :

Laporan :

Editor : 0

loading...